FKIP – Kearifan lokal mempunyai suatu khasanah yang luar biasa seperti nilai-nilai sosial dan filosofi yang bisa diterapkan dan bahkan menjadi suatu petunjuk perilaku dalam berbangsa maupun bernegara selain dari ideologi agama.

Hal itu disampaikan Dr. Djono, Wakil Dekan Perencanaan, Kerjasama Bisnis, dan Informasi, dalam pembukaan Konferensi Internasional Ke-BIPA-an IV pada Sabtu (18/9/2021). Acara yang dilaksanakan melalui zoom meeting dan kanal youtube Himpunan Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia ini mengambil tema BIPA dan Kearifan Lokal.

Konferensi Internasional Ke-BIPA-an IV ini merupakan salah satu bentuk kerjasama antara Universitas Sebelas Maret dengan Fatoni University Thailand. Adapun bentuk rangkaian kerjasama antara lain mengajar bersama, riset, dan lomba tingkat Asia Tenggara. Kerjasama ini diharapkan dapat menjadi bentuk internasionalisasi universitas, terkhusus bahasa Indonesianya. Kegiatan ini diinisiasi oleh Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta yang dilaksanakan setiap satu tahun sekali.

Konferensi ini menghadirkan beberapa pembicara, diantaranya Ku-Ares Tawandoloh, S.Pd., M.Hum (Fatoni University Thailand), Islahuddin, S.S., M.A (Fatoni University Thailand), Sumaiyah Menjamin, M.Hum (Fatoni University Thailand), Wati Istanti (Universitas Negeri Semarang), Dr. Memet Sudaryanto, M.Pd (Universitas Jenderal Soedirman), Chafit Ulya, M.Pd (Universitas Sebelas Maret), dan Titi Setiyoningsih, M.Pd (Universitas Sebelas Maret).

Menurut Dr. Memet Sudaryanto, Universitas Jenderal Soedirman, Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) merupakan salah satu wahana untuk memperkenalkan budaya Indonesia dan beragam aktivitas di dalamnya. Adapun aktivitas tersebut berupa produk kesenian dan kebudayaan, seperti seni pertunjukan yang ditampilkan secara nyata melalui berbagai media.

“Perbedaan budaya, suku, daerah di Indonesia memberikan peluang besar untuk Indonesia dalam mengembangkan bahan ajar yang multidimensi, multimedia, dan multifungsi,” ungkapnya.

Pengembangan pembelajaran berbasis multimedia memudahkan penutur asing untuk terus interaktif dengan keadaan dan budaya di Indonesia yang terus berkembang. Sehingga secara tidak langsung penutur asing dituntut untuk mengetahui makna, maksud, dan tujuan serta mampu menyampaikan kembali dengan bahasa yang dikuasai.

Ia menambahkan bahwa kendala dalam belajar bahasa adalah ketika pemelajar dihadapkan pada topik-topik yang tidak dikuasai. Artinya belajar bahasa yang tidak kontekstual membuat belajar bahasa menjadi terkesan sulit.

“Salah satu yang paling menonjol dan yang paling menjadi masalah kadangkala seperti ketika kita belajar bahasa asing atau bahasa Inggris, kita dihadapkan pada topik-topik yang tidak kita kuasai, misalnya sebagai humaniora harus mempelajari topik-topik sains seperti mikrobiologi, nuklir, antropologi, astronomi, dll itu menjadi salah satu kendala belajar bahasa,” imbuhnya.

Wati Istanti, Universitas Negeri Semarang, menambahkan bahwa BIPA sekarang ini tidak sekadar untuk orang asing ataupun program-program Darmasiswa saja, melainkan juga untuk orang Indonesia yang tidak bisa berbahasa Indonesia.

“Ternyata kemarin dari Singapura dan Kinabalu banyak migran-migran Indonesia yang pergi ke luar negeri tetapi tidak bisa berbahasa Indonesia sebagaimana mestinya,” terangnya.

Selain itu, kaitannya dengan capaian pembelajaran, BIPA juga memiliki capaian yang harus semua pemelajar asing perhatikan yaitu bagaimana memberikan sikap.

“Kerangka kualifikasi nasional indonesia juga ada capaian pembelajaran lulusan yang harus semua pemelajar asing selain mereka terampil berbahasa Indonesia mereka juga mengetahui tentang bahasa Indonesia, tetapi ada hal yang sangat penting dan ini menjadi highlight bahwa bagaimana kita juga memberikan sikap,” imbuhnya.

Reporter: Muhammad Muzaqqi
Editor: Aulia Anjani

https://fkip.uns.ac.id/
https://www.instagram.com/fkipuns.official/

#fkipuns
#fkipbagus
#uns
#universitassebelasmaret
#unsbisa