FKIP – Mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta berhasil menorehkan prestasi pada ajang bergengsi Peksimida XVI 2022. Mahasiswa UNS ini berhasil meraih juara 2 tingkat Jawa Tengah. Adapun mahasiswa yang berhasil menorehkan prestasi ini, yakni Wanda Ayudya Riwibowo dari Program Studi S-1 Pendidikan Bahasa Jawa (FKIP), Rosa Faustina Sari Maandag (FEB), Eustakia Septefany Lidyawati (SV), Asrining Puspito Jati (SV), dan Nabiran Fungki Bawono (FISIP).

Kejuaraan Peksimida atau pekan seni mahasiswa daerah Jawa Tengah XVI 2022 ini diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi melalui Badan Pembina Seni Mahasiswa Indonesia (BPSMI) Jawa Tengan di Teater Besar ISI Surakarta pada September 2022.

Saat diwawancarai oleh tim fkip.uns.ac.id pada Selasa (17/01/2023), Nabiran menyampaikan bahwa tari yang mereka tampilkan tersebut menceritakan tentang sebuah permainan yang membawa nostalgia. Dengan kemajuan teknologi saat ini begitu banyak inovasi tercipta yang mampu menjadi sebuah sarana dalam menyalurkan ekspresi. Akan tetapi di balik itu semua, ada sebuah kenangan lama yang tidak akan terlupakan.

“Cerita ini terinspirasi dari lagu daerah Gundul-Gundul Pacul, yakni ketika seseorang telah mendapatkan suatu kekuasaan, kekayaan, ataupun hal-hal yang besar. Manusia cenderung lupa dan merasa tinggi hati, hal ini yang seketika dapat menggulingkan orang tersebut dengan sendirinya,” jelas Nabiran.

Lebih lanjut, Nabiran juga menyampaikan cerita dalam tari tersebut memiliki sinopsis bahwa pilihan sering berbenturan dengan diri sendiri, jika itu terjadi tidak ada yang benar atau salah. Di sisi lain mereka menginginkan keadilan dan pada saat yang sama menginginkan belas kasih, pada saat tertentu mereka menginginkan kebebasan, pada saat yang sama mereka menginginkan kebersamaan. Setiap pilihan dikompromikan oleh rasa kehilangan yang tak terlihat.

Dalam mempersiapkan lomba tersebut, Nabiran mengaku banyak kesulitan yang harus mereka hadapi. Mulai dari adanya kemunduran jadwal penyelenggaraan lomba serta perubahan petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis yang menyebabkan perubahan formasi penari sampai perombakan materi.

“Adanya perubahan tersebut juga mempengaruhi mental penari, karena penari perlu menyesuaikan ulang. Selain itu, proses latihan yang lama terhitung sejak Februari hingga September 2022 menyebabkan terkadang menemui titik jenuh dan proses latihan yang keras menimbulkan kelelahan yang berlebih bahkan ada beberapa yang menyebabkan cedera,” tuturnya.

Namun dibalik kesulitan yang mereka alami, Nabiran merasa senang bisa mengikuti lomba tersebut, karena lomba tersebut menambah pengalaman dan pengetahuan baru tentang penggarapan karya tari utamanya tari kontemporer.

“Senang rasanya mengikuti lomba ini karena bisa menambah relasi baru baik di dalam maupun di luar UNS dan kegiatan ini menjadi sarana pengakraban sesama tim penari, pemusik, serta manajemen,” ujarnya.

Setelah berhasil meraih juara dua, Nabiran berharap untuk ke depannya semoga mahasiswa UNS semakin tertarik dengan kesenian khususnya tari kontemporer dan dapat menyalurkannya ke berbagai perlombaan sehingga mampu membawa nama harum UNS.

Reporter: Akhmad Mukhibun
Editor: Aulia Anjani

https://fkip.uns.ac.id/
https://instagram.com/fkipuns.official/

#fkipuns
#fkipbagus
#uns
#unsbisa