FKIP – Senin hingga Selasa (29-30/4/2024), Tim Riset Grup (RG) Eduscape Program Studi (Prodi) Pendidikan Sosiologi Antropologi FKIP UNS menggelar Workshop Penyusunan Bahan Ajar Berbasis Cultural Responsive Teaching (CRT) Pada Mata Pelajaran Sosiologi Fase F. Kegiatan ini merupakan kegiatan pengabdian yang dilaksanakan dengan Tim Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Sosiologi Kabupaten Klaten.

Pelaksanaan workshop ini dilatarbelakangi oleh urgensi mata pelajaran sosiologi dalam mempersiapkan peserta didik unggul berbudaya. Melihat urgensi tersebut, Tim RG Eduscape menilai bahwa diperlukan penyusunan bahan ajar berbasis CRT.

Diketuai oleh Dr. Siany Indria Liestyasari, M. Hum., Tim RG Eduscape Prodi Pendidikan Sosiologi Antropologi FKIP UNS terdiri dari 5 anggota. Kelima anggota tersebut adalah Dr. Atik Catur Budiati, S.Sos, M.A.; Dwi Astutik, S.Pd., M.A.; Ghufronuddin. S.Pd., M.Si.; Bagas Narendra Pahahita, S.Pd., M.Sos.; dan Riadi Syafutra Siregar, S.Pd., M.Si.

Dalam sambutannya, Dr. Siany menyatakan Sosiologi sangat dekat dengan budaya, kehidupan sehari-hari, dan sangat multikultural. Ia berharap kegiatan ini bisa memberikan kontribusi signifikan pada pelajaran Sosiologi dan dapat dikembangkan sebagai bekal guru dalam mempersiapkan bahan ajar di masa mendatang.

Sejalan dengan itu, Ketua MGMP Sosiologi Kabupaten Klaten, Dra. Rini Sulistyowati, M.Si, menyampaikan bahwa kegiatan ini memberikan warna baru dan meningkatkan kualitas dalam membuat bahan ajar dan dapat berlanjut kepada pelaksanaan outing class dan studi banding. Ia berharap dengan mengikuti kegiatan ini para guru, khususnya guru sosiologi, memiliki penambahan pengetahuan dalam mempersiapkan bahan ajar dan metode mengajar di Klaten berbasis CRT.

Pemaparan materi diberikan oleh Dr. Atik Catur Budiati, S.Sos, M.A. sebagai pemantik untuk guru-guru Sosiologi agar dapat membuat bahan ajar yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Ia memulai pemaparan dengan menjelaskan gambaran umum dan manfaat dari CRT.

“CRT merupakan pendekatan pembelajaran yang menerapkan pengetahuan budaya, pengalaman dan gaya belajar siswa untuk menciptakan pembelajaran lebih bermakna. CRT memiliki manfaat, yaitu meningkatkan nilai akademik, mengembangkan identitas etnis dan budaya positif, serta mengenali, memahami dan mengkritik kesenjangan sosial. Sekarang ini kebanyakan siswa mengetahui kultur lokal namun masih belum mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini menjawab P5 yang ada dalam kurikulum merdeka,” jelas Dr. Atik.

Lebih lanjut, ia juga menjelaskan macam-macam pengembangan CRT yang dapat dilakukan oleh guru sosiologi sebagai bahan ajar.

“CRT yang dapat dikembangkan oleh guru sosiologi sebagai bahan ajar meliputi materi pengajaran, teknik pengajaran, hubungan siswa dan guru, suasana kelas, kesadaran siswa dan guru, serta penilaian. Keseluruhan tersebut dapat menjadikan guru semakin profesional dan mendapatkan pengalaman baru dalam melaksanakan pembelajaran di dalam kelas. Walaupun semuanya tidak harus diterapkan namun langkah-langkah tersebut memberikan pengaruh ideal terhadap peserta didik,” jelas Dr. Atik.

Metode CRT dapat meningkatkan kualitas guru dan pemahaman siswa terkait materi yang diberikan. Biasanya guru memberikan pemantik materi yang umum dan tidak terlalu memberikan pengalam individual bagi siswa, sementara CRT memiliki materi yang sama namun pemantiknya lebih spesifik dan kontekstual, sehingga menciptakan pengalaman belajar siswa yang interaktif dan kritis.

Kegiatan pengabdian ini juga memberikan pengetahuan kepada MGMP Sosiologi terkait dengan perbedaan Modul Ajar, Bahan Ajar dan Modul Projek yang sangat dibutuhkan dalam mempersiapkan pembejaran efektif, efisien dan partisipatif.

HUMAS FKIP

Reporter: Rosantika Utami
Editor: Budi Suseno

https://fkip.uns.ac.id/
https://instagram.com/fkipuns.official/

#fkipuns
#fkipbagus
#uns
#unsbisa