FKIP – Dosen Program Studi (Prodi) Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Roy Ardiyansyah, S.Pd., M.Pd., menyampaikan materi mengenai tantangan dan bekal bagi guru sekolah dasar di daerah 3T (terdepan, terpencil, dan tertinggal) dalam forum diskusi yang digelar oleh Taiyou Indonesia Foundation (TIF) pada Sabtu (16/4/2022).

TIF merupakan organisasi nonprofit di bawah Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Osaka-Nara, Jepang. Organisasi ini berorientasi untuk memberikan kontribusi nyata dalam memajukan kualitas pendidikan Indonesia, terutama di daerah 3T. TIF secara rutin menggalang dana dari pelajar yang sedang melanjutkan pendidikan di negeri Sakura untuk membantu sekolah-sekolah di Indonesia yang belum memiliki sarana prasarana penunjang pendidikan yang layak.

Dimoderatori oleh Mercy Bientri Yunindanova, S.P., M.Si., selaku Dosen Prodi Agroteknologi Fakultas Pertanian (FP) UNS, forum diskusi tersebut digelar secara daring melalui siaran langsung pada akun Instagram @taiyouindonesiafoundation. Forum diskusi ini dikemas dengan sistem tanya jawab. Moderator memberikan pertanyaan, baik yang sudah dipersiapkan oleh panitia maupun peserta, untuk kemudian ditanggapi oleh pembicara.

Pada awal sesi diskusi, Roy memberikan gambaran mengenai tujuan pendidikan dasar di Indonesia. Menurutnya, pendidikan dasar bertujuan untuk mempersiapkan peserta didik dengan dasar-dasar keilmuan yang akan digunakan di masa depan.

“Secara sederhana, pendidikan dasar bertujuan untuk mempersiapkan ke jenjang berikutnya. Siapa yang dipersiapkan? Yang dipersiapkan adalah peserta didik di tingkat dasar. Misalnya, di tingkat SD berarti untuk mempersiapkan ke tingkat SMP, dan seterusnya. Lalu apa yang dipersiapkan? Yang dipersiapkan adalah bekal atau dasar-dasar keilmuan yang akan digunakan ke depannya. Jadi kita bukan bicara tentang hasil, tetapi bagaimana peserta didik mengerti dan mau belajar” terang Roy.

Lebih lanjut, Roy juga memberikan pandangannya mengenai kualitas pendidikan di Indonesia yang belum merata. Ia menjelaskan bahwa masalah tersebut sangat membutuhkan peran guru. Menurutnya, permasalahan tersebut menuntut guru melakukan inisiasi untuk menyelesaikannya.

“Tidak bisa dipungkiri bahwa kualitas pendidikan di Indonesia ini belum merata. Jangankan antara kota besar dengan daerah 3T, antara sekolah-sekolah dalam satu kota saja ada perbedaan fasilitas penunjang proses pendidikan. Lalu apa yang bisa dilakukan guru? Guru harus melakukan inisiasi. Maksudnya, guru jangan hanya datang, mengajar, lalu pulang. Tapi, cari faktanya, temukan masalahnya, diskusikan, dan berikan solusi. Keterbatasan jangan hanya diterima, harus diupayakan,” jelas Roy.

Pada akhir sesi diskusi, Roy mengajak seluruh guru di Indonesia untuk mewujudkan pendidikan yang berkeadaban. Pendidikan yang tidak hanya mengajarkan peserta didik untuk menyelesaikan soal, tetapi pendidikan yang memfasilitasi mereka memiliki keterampilan di masa depan.

“Peserta didik di jenjang sekolah dasar itu adalah 100% masa depan Indonesia. Mereka yang nantinya akan memegang arah bangsa ini mau dibawa kemana. Maka dari itu, saya mengajak bapak ibu guru utamanya di jenjang sekolah dasar untuk mewujudkan pendidikan yang berkeadaban. Semua peserta didik itu unik dan pandai. Mereka jangan hanya diajarkan bagaimana cara menyelesaikan soal, tetapi fasilitasi mereka untuk memiliki keterampilan masa depan” ajak Roy.

HUMAS FKIP

Reporter: Rosantika Utami
Editor: Aulia Anjani

https://fkip.uns.ac.id/
https://instagram.com/fkipuns.official/

#fkipuns
#fkipbagus
#uns
#unsbisa