FKIP – Program Studi (Prodi) Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PG PAUD) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta menyelenggarakan diskusi pendidikan secara daring melalui zoom meeting pada Sabtu (2/7/2022).

Diskusi pendidikan merupakan acara yang rutin diselenggarakan oleh Prodi PG PAUD setiap semester. Diskusi kali ini mengusung tema “Dongeng untuk Anak Usia Dini di Era Digital, ‘Masihkah Relevan untuk dilakukan?’”.

Diskusi pendidikan dibuka dengan sambutan yang disampaikan oleh Dr. Anayanti Rahmawati, S.Psi., Psi., M.A. selaku Kepala Program Studi (Kaprodi) PG PAUD FKIP UNS. Dalam sambutannya, Dr. Anayanti memaparkan latar belakang diselenggarakannya kegiatan diskusi pendidikan ini.

“Tema kali ini terkait dengan kemajuan teknologi. Banyak sekali cerita-cerita, komik yang bisa kita akses secara online. Anak kecil pun sudah sejak dini sudah banyak yang memegang bahkan difasilitasi oleh orang tuanya gadget. Padahal, seperti yang kita tahu, itu ada keunggulannya tetapi juga ada kekurangannya. Terkait dongeng, ini kaitannya dengan stimulasi pengembangan bahasa, tetapi malah berbenturan dengan perkembangan teknologi,” papar Dr. Anayanti.

Diskusi ini menghadirkan pembicara dari Universitas Trunojoyo Madura yakni Dr. Yudho Bawono, S.Psi., M.Si. Dr. Yudho memaparkan materi dengan tajuk “Dongeng dan Anak Usia Dini”.

“Dongeng adalah cerita khayal atau fantasi yang mengisahkan tentang keanehan atau keajaiban sesuatu, seperti menceritakan tentang asal mula suatu tempat atau suatu negeri, atau mengenai peristiwa-peristiwa yang aneh dan menakjubkan tentang kehidupan manusia atau binatang,” papar Dr.Yudho.

Dr. Yudho menjelaskan bahwa sejarah dongeng ditemukan sejak zaman perunggu, berikutnya ditemukan jejak di Persia pada abad ke-10, yakni “Kisah 1001 Malam”. Kemudian di Indonesia dikenal dengan kultur sastra lisan, hingga di era digital yaitu audio dan visual.

Dr. Yudho juga menyampaikan penggolongan dongeng yang terbagi menjadi empat, yakni dongeng binatang, dongeng biasa, lelucon dan anekdot, serta dongeng berumus.

Berikutnya, Dr. Yudho memaparkan delapan manfaat dongeng yang akan dikaitkan dengan era digital.

“Manfaat dongeng ini yang akan berkaitan dengan era digital. Kalau masih bermanfaat berarti relevan. Manfaat dongeng yang pertama adalah membangun hubungan erat antara orang tua dan anak. Kedua, merangsang kemampuan bahasa anak. Ketiga, merangsang imajinasi anak. Keempat, mengembangkan emosi anak. Kelima, penanaman nilai-nilai moral anak. Keenam, merangsang minat baca. Ketujuh, membentuk karakter anak. Kedelapan, pendidikan seks pada anak,” papar Dr. Yudho.

Menurut Dr. Yudho, di era digital, dongeng hadir tidak hanya lewat huruf yang dirajah tetapi melalui situs. Kini dongeng makin dekat dengan pemirsanya seiring marak aplikasi di ponsel pintar.

HUMAS FKIP

Reporter: Dwinanda Wuri Harsanti
Editor: Zalfaa Azalia Pursita

https://fkip.uns.ac.id/
https://instagram.com/fkipuns.official/

#fkipuns
#fkipbagus
#uns
#unsbisa