FKIP – Mahasiswa Program Magister (S-2) Pendidikan Kimia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Sebelas Maret Surakarta mengulas model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) yang terintegrasi Contextual Teaching Learning (CTL) untuk mengetahui keunggulan-keunggulan dalam penerapannya pada proses pembelajaran. Ia adalah Nanda Putri Pertiwi, S.Pd.
PBL menggunakan prinsip-prinsip konstruktivis untuk mendorong penerapan pengetahuan sebelumnya, pembelajaran kolaboratif, dan keterlibatan aktif. Untuk memulai aktivitas PBL, sekelompok kecil siswa menganalisis suatu masalah, mengidentifikasi fakta yang relevan, dan menerapkan pengetahuan dan pengalaman yang ada untuk memecahkan suatu masalah (Alexander et al., 2002; Oja, 2011; Papastrat & Wallace, 2003; Yew & Schmidt, 2012; Zhou, 2018). Masalah dalam kegiatan PBL harus berupa masalah atau situasi terkait pekerjaan yang khas yang mencakup informasi yang hilang atau jawaban yang tidak jelas seperti studi kasus yang tidak terstruktur (Miner-Romanoff et al., 2019).
Model pembelajaran berbasis masalah memiliki ciri-ciri masalah yang dijadikan dasar pembelajaran. Siswa menggunakan masalah untuk menemukan informasi dan memecahkan masalah dalam kelompok. Dalam proses ini, siswa berkolaborasi dengan siswa lain dalam memecahkan masalah.
Pembelajaran Berbasis Masalah memungkinkan siswa saling bertukar informasi dan memecahkan masalah sehingga kemampuan berpikir kritis siswa otomatis meningkat. Hal ini bertolak belakang dengan metode konvensional (metode ceramah), siswa tidak memberikan soal, siswa hanya diminta mendengarkan apa yang disampaikan oleh guru sehingga siswa mencatat apa yang disampaikan oleh guru. Hal ini mengakibatkan kemampuan berpikir kritis siswa kurang terlatih/rendah (Kenedi et al., 2019).
Keunggulan lain dari penerapan model PBL berbasis konstruktivisme adalah diharapkan tidak hanya dapat meningkatkan sikap ilmiah dan kemampuan berpikir kritis, tetapi juga sebagai upaya mengintegrasikan konsep-konsep kimia yang relevan dengan pengalaman sehari-hari siswa sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna dan bermakna menciptakan pembelajaran berpusat pada siswa(Sumardi et al., 2020; Sumardi & Wahyudiati, 2021; Wahyudiati, 2021; Wahyudiati et al., 2020).
CTL merupakan suatu konsep belajar dimana guru mengaitkan materi yang diajarkan dengan siatuasi pada dunia nyata yang mendorong peserta didik untuk mengaitukan antara pengetahuannya dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari peserta didik (Rusman, 2013a). CTL adalah sistem yang mengiringi cara kerja alam dan menyatukan konsep dan praktik.
Selain itu, CTL dapat membantu siswa mengaitkan pembelajaran akademik dengan konteks kehidupan sehari-hari, lingkungan, dan dunia nyata sehingga siswa mampu memahami makna dari pemahaman yang telah diperoleh kelas (Annisa et al., 2017; Hyun, 2015).Editor: Budi Suseno
https://fkip.uns.ac.id/
https://instagram.com/fkipuns.official/
#fkipuns
#fkipbagus
#uns
#unsbisa