FKIP UNS – Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas Sebelas Maret (UNS) menyelenggarakan kegiatan Visitasi Lomba Inclusion Metric sebagai wujud nyata komitmen dalam membangun lingkungan kampus yang inklusif, adaptif, dan ramah terhadap keberagaman. Kegiatan ini berlangsung pada Selasa, (30/4/2025) bertempat di Ruang Sidang 1, Gedung F FKIP UNS, dan dihadiri oleh jajaran pimpinan fakultas, tim asesor, serta perwakilan dosen dan mahasiswa.
Dekan FKIP UNS, Dr. Imam Sujadi, M.Si., menegaskan pentingnya pengalaman langsung dalam praktik pendidikan inklusi. Ia menyampaikan bahwa mahasiswa perlu turun langsung ke lapangan untuk memahami kondisi nyata di sekolah-sekolah. Lebih lanjut, beliau menekankan bahwa pendekatan terhadap pendidikan inklusi tidak boleh berhenti pada penyediaan fasilitas semata.
“Mahasiswa tidak cukup hanya belajar teori, mereka harus mengamati langsung bagaimana layanan pendidikan diberikan, termasuk kepada siswa dengan kelebihan pendengaran. Pendidikan inklusi harus dibarengi dengan pemahaman yang mendalam terhadap keberagaman. Kita harus menyadari bahwa keberagaman adalah bagian dari ciptaan Tuhan yang harus kita terima dan hormati,” tegas Dr. Imam Sujadi.
Dr. Imam Sujadi, M.Si., juga menyampaikan harapan agar masukan dari para asesor dapat menjadi bekal penting dalam pengembangan FKIP ke depan. “Kami sangat berharap arahan dan bimbingan dari para asesor dapat menjadi masukan berharga untuk menyempurnakan praktik inklusi di lingkungan kampus,” tutup Dr. Imam Sujadi.
Prof. Dra. Y. Anni Aryani, M.Prof.Acc., Ph.D., mengajak seluruh elemen kampus untuk aktif membangun lingkungan akademik yang benar-benar inklusif. “Membangun kampus inklusif harus menjadi tanggung jawab bersama. Kita bisa mulai dari langkah sederhana, seperti memastikan fasilitas yang ramah dan sesuai standar kebutuhan disabilitas,” ujar Prof. Dra. Y. Anni Aryani.
Asesor kedua, Dr. Joko Yuwono, M.Pd., menambahkan bahwa inklusi bukan sekadar konsep, melainkan hasil dari kepekaan sosial yang tumbuh di tengah masyarakat. “Semangat inklusi lahir dari kepekaan sosial. Kita perlu memperbarui wawasan, terutama di kalangan dosen. Mewujudkan lingkungan yang inklusif memang tidak mudah—diperlukan proses, waktu, dan biaya yang tidak sedikit,” tutur Dr. Joko Yuwono.
Sementara itu, Ibu Fadjri Kirana Anggarani, S.Psi., MA., menyoroti pentingnya aspek dukungan sosial dalam menciptakan budaya kampus inklusif. “Kesadaran akan pentingnya inklusi harus terus digalakkan. Saya berharap kegiatan seperti ini dapat menjadi role model bagi fakultas lain dalam menumbuhkan budaya kampus yang inklusif,” jelas Ibu Fadjri Kirana.
Setelah sesi sambutan, acara dilanjutkan dengan doa, sesi foto bersama, serta peninjauan langsung sarana dan prasarana pendukung inklusi di lingkungan FKIP UNS. Visitasi ini diharapkan menjadi pijakan penting dalam perjalanan FKIP UNS menuju kampus yang lebih inklusif, memberikan layanan pendidikan yang merata, dan memperkuat kesadaran sivitas akademika dalam menghargai setiap bentuk keberagaman.
Humas FKIP,
Jurnalis: Nur Annisa Lailatul Mila
Editor: Budi Suseno