FKIP UNS – Tim Grup Riset Linguistik dan Sastra Terapan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Sebelas Maret (UNS) melakukan penelitian terhadap upacara tradisi membersihkan sumber air Popokan di Desa Sendang, Kecamatan Bringin, Kabupaten Semarang, pada hari Sabtu (04/9/2025).

Kegiatan riset ini dipimpin oleh Prof. Dr. Sumarwati, M.Pd., selaku Ketua Riset Grup Linguistik dan Sastra Terapan FKIP UNS dengan anggota Dr. Atikah Anindyarini, M.Hum., Dr. Edy Suryanto, M.Pd., Drs. Slamet, M.Pd., serta Dr. Laila Fitri Nur Hidayah, M.Pd. Dalam pelaksanaannya melibatkan mahasiswa pascasarjana S3 Pendidikan Bahasa Indonesia UNS, Muhajir, S.Pd., M.Hum.

Penelitian ini menjadi bagian dari upaya pelestarian kearifan lokal sekaligus menjaga kelestarian sumber mata air.  Setahun sekali di Desa Sendang, Kecamatan Bringin, Kabupaten Semarang menyelenggarakan Popokan sebagai trasisi membersihkan sumber. Acara bersih sumber adalah membersihkan sumber-sumber air seperti sendang, sungai, pancuran. Acara bersih sumber Popokan dilakukan oleh warga pada setiap Rukun Tetangga (RT).

Pada Tahun ini acara bersih sumber dilaksanakan pada Kamis, 04 September 2025 pada pagi hari pukul 07.00. WIB. Para warga secara komunal melakukan bersih-bersih dengan cara sendang di kuras, lumpurnya dibuang. Sumber air yang dibersihkan itu antara lain sumber pada Sendang utama, Selain di Sendang utama, juga dilakukan bersih sumber di Kali Kluwih, Kali Gondang, Kali Dadap, pancuran, dan Sendang Kalipare. Menurut Kepala Desa Sendang, Samsudin, tradisi ini telah dilaksanakan bertahun-tahun lalu. Tradisi bersih sumber Popokan adalah bagian dari acara Merti Desa yang dilaksanakan sehari berikutnya tepatnya pada tanggal 5 September 2025 pada Jumat Kliwon. Usai acara bersih-bersih warga menyelenggarakan makan bersama. Menu makan ini adalah kupat dan sayur yang dibawa oleh masing-masing warga. Sebelum makan bersama dilakukan doa bersama, mengirim doa kepada leluhur, dan doa keselamatan. Bersih sumber ini selain sebagai ungkapan rasa syukur juga untuk memelihara sumber yang selama ini digunakan sebagai sumber kehidupan warga.

Sehari berikutnya yaitu tanggal 05 September 2025 pukul 14.00.WIB dilaksanakan acara kirab hasil bumi. Benda-benda sesaji yang dibawa adalah hasil bumi dari sungai yaitu ikan-ikan seperti kutuk, lele, udang, juga dari darat seperti ayam, burung. Ikan-ikan tersebut  dimasak dengan cara dibakar. Menurut Widodo, kepala dusun Sendang, alasan dimasak dengan cara dibakar ini karena pada waktu itu belum ada minyak. Apa yang dilakukan hari ini adalah mengingat apa yang dilakukan pada waktu itu. Selain itu juga ada kelapa muda, bubur katul, pisang, dll.

Urutan kirab yang paling depan adalah barongan yang menyerupai harimau, perangkat desa yang membawa sesajen, baru kemudian warga yang menampilkan berbagai kesenian seperti rebana tradisional, drumband, angklung, dll. Harimau diletakkan paling depan berkaitan dengan cerita rakyat setempat. Pada masa lalu ada seekor harimau yang turun di perumahan penduduk. Harimau itu tidak mau pergi meski telah diusir. Sesepuh desa menyarankan untuk mengusir menggunakan lumpur dicampur katul. Dengan cara ini ternyata harimau mau pergi. Kejadian itu kemudian diabadikan dengan tradisi Popokan yang dilaksanakan setelah kirab sesaji.

Nama trradisi Pokpokan berhubungan dengan diadakannya acara saling lempar lumpur. Acara terlebih dahulu dimulai dengan berdoa yang dipimpin oleh Kiai setempat. Setelah itu, sesaji serta gunungan hasil bumi yang dikirab diperebutkan oleh warga. Selanjutnya diasakan tradisi Pokpokani. Di sepanjang jalan desa anak-anak dan remaja saling lempar lumpur yang diambil dari sawah dan sungai. Acara baru selesai menjelang Magrib. Setelah selesai mereka membersihkan diri di aliran sungai di pinggir jalan yang alirannya cukup deras.

Humas fkip

#fkipuns#uns