FKIP UNS – Tim Riset dari Group Linguistik dan Sastra Terapan, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas Sebelas Maret (UNS) melakukan penelitian lapangan terhadap prosesi Larungan, sebuah tradisi budaya yang menjadi bagian penting dalam Festival Rawa Pening 2025 (2/8/2025) Kegiatan tersebut dilaksanakan di Bukit Cinta, kawasan wisata yang terletak di pinggiran Rawa Pening, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.
Tim riset ini dipimpin langsung oleh Prof. Dr. Sumarwati, M.Pd., selaku Ketua Riset Grup Linguistik dan Sastra Terapan FKIP UNS. Dalam pelaksanaan penelitian, beliau melibatkan lima mahasiswa pascasarjana yang terdiri dari: Muhajir, M.Hum., Aldi Dwi Saputra, M.Pd., Aprilia Rizki Nur Arifah, M.Pd., Akhmad Muhibun, M.Pd., dan Nur Qoyimah, M.Pd. Kelimanya aktif berperan dalam observasi, dokumentasi, serta wawancara dengan pelaku budaya dan masyarakat sekitar.
Penelitian ini berfokus pada tradisi Larungan, sebuah prosesi spiritual yang biasanya dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada alam dan permohonan keselamatan. Dalam konteks Festival Ungaran 2025, tradisi ini menjadi simbol pelestarian kearifan lokal sekaligus bentuk ekspresi bahasa yang diwujudkan dalam makna simbolik dari berbagai macam sesaji.
Kegiatan riset dilakukan pada 2 Agustus 2025, bertepatan dengan puncak acara Festival Ungaran 2025. Prosesi Larungan berlangsung di Bukit Cinta Rawa Pening, sebuah lokasi yang memiliki nilai historis dan simbolis bagi masyarakat setempat, khususnya dalam konteks budaya air dan mitologi asal-usul terbentuknya Rawa Pening yang dikaitkan dengan legenda Baru Klinting.
Penelitian ini bertujuan untuk mendokumentasikan sekaligus mengkaji nilai-nilai kearifan lokal dalam tradisi Larungan, terutama dalam konteks pelestarian bahasa dan budaya Jawa. Selain itu, kegiatan ini mendukung upaya kampus dalam menjadikan riset budaya sebagai bagian integral dari Tri Dharma Perguruan Tinggi.
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi akademik dalam bidang pembelajaran bahasa Indonesia, antropologi linguistik, sastra terapan, serta pengembangan kurikulum berbasis kearifan lokal. Selain itu, partisipasi aktif mahasiswa dalam kegiatan lapangan juga menjadi wadah pembelajaran kontekstual yang mendalam.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini mencakup observasi langsung, partisipasi aktif, serta wawancara mendalam dengan tokoh adat, Dinas Pariwisata setempat, dan masyarakat yang terlibat dalam prosesi. Tim juga melakukan dokumentasi visual dan naratif sebagai bagian dari pengarsipan tradisi yang mulai tergerus oleh modernisasi.