FKIP UNS – Pendidikan Profesi Guru (PPG) Calon Guru Gelombang 1 Tahun 2026 Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta mengikuti Workshop Etika Akademik dan Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (PPK) yang diselenggarakan di Aula Gedung F Lantai 3 FKIP UNS pada Selasa (31/3/2026) Sebanyak 495 mahasiswa. Kegiatan ini menjadi bagian strategis dalam rangkaian pembinaan mahasiswa, sekaligus ruang refleksi bersama untuk menumbuhkan kesadaran akan pentingnya etika dan budaya aman di lingkungan pendidikan.

Menghadirkan peserta dari enam bidang studi, workshop ini tidak hanya menjadi forum akademik, tetapi juga wadah lintas disiplin dalam membangun komitmen kolektif terhadap integritas, profesionalisme, dan kepekaan sosial sebagai calon pendidik masa depan.

Ketua Program Studi PPG UNS, Dr. Idam Ragil Widianto Atmojo, S.Pd., M.Si. dalam laporannya menegaskan bahwa kegiatan ini dirancang untuk membentuk karakter calon guru secara utuh.

“Kegiatan ini merupakan upaya sistematis dalam membentuk calon guru yang tidak hanya unggul secara akademik dan profesional, tetapi juga memiliki integritas moral, etika, serta kepekaan sosial yang tinggi,” ungkap Dr. Idam.

Dr. Idam Ragil juga menambahkan bahwa keberagaman latar belakang peserta menjadi kekuatan dalam membangun kesadaran bersama terkait pentingnya etika akademik dan budaya anti kekerasan.

Senada dengan hal tersebut, Dekan FKIP UNS menekankan bahwa peran guru tidak berhenti pada transfer ilmu.

“Sebagai calon guru, Anda tidak hanya mentransfer ilmu, tetapi juga membentuk karakter peserta didik dan menciptakan lingkungan belajar yang aman,” ungkap Dr. Imam.

Dr. Imam Sujadi mengajak seluruh peserta untuk lebih peka terhadap tanda-tanda kekerasan serta meningkatkan kesadaran, menguatkan komitmen, dan membangun budaya anti kekerasan di lingkungan pendidikan.

Pada sesi materi, Ketua Satgas PPK UNS, Prof. Dr. Ismi Dwi Astuti Nurhaeni, M.Si. memaparkan secara komprehensif tentang realitas kekerasan di lingkungan pendidikan, mulai dari definisi, bentuk, hingga faktor penyebabnya. Ia juga menjelaskan strategi pencegahan serta mekanisme penanganan kasus yang telah disiapkan oleh kampus.

“Kekerasan dapat terjadi dalam berbagai bentuk, fisik, psikis, seksual, hingga diskriminasi dan menimbulkan dampak serius, sehingga pencegahan dan penanganannya harus dilakukan secara sistematis dan melibatkan seluruh warga sekolah termasuk oleh para guru,” ungkap Prof. Ismi.

Sementara itu, Ketua Majelis Kode Etik Mahasiswa UNS, Dr. Sapto Hermawan, S.H., M.H. mengajak peserta memahami pentingnya etika sebagai fondasi utama kehidupan akademik. Materi yang disampaikan mencakup peran kode etik sebagai pedoman perilaku, bentuk-bentuk pelanggaran, hingga pentingnya integritas dalam menjaga marwah institusi.

“Kode etik adalah kompas moral yang menuntun mahasiswa dalam bersikap dan bertindak, baik di lingkungan akademik maupun nonakademik,” ungkap Dr. Sapto.

Dr. Sapto Hermawan juga menekankan bahwa integritas bukan sekadar aturan, melainkan identitas yang harus dijaga setiap mahasiswa.

Melalui kegiatan ini, PPG FKIP UNS menegaskan komitmennya dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, inklusif, dan berintegritas. Lebih dari itu, workshop ini diharapkan mampu melahirkan calon guru yang tidak hanya cakap secara akademik, tetapi juga menjadi teladan dalam menjunjung nilai-nilai etika dan kemanusiaan.

#ppgfkipuns #fkipuns #uns