FKIP – Saat ini kita berada pada generasi yang melek digital, yang mana banyak terjadi perubahan di berbagai lini kehidupan tidak terkecuali pada pelaku bisnis. Ditambah dengan adanya pandemi Covid-19 memberikan dampak signifikan terhadap perubahan tersebut.

Berdasarkan data pelaku ekonomi, yang relatif dapat bertahan saat ini berasal dari sektor riil seperti pertanian, IT, fintech dan masih banyak lagi. Survei mengatakan bahwa 94% SME (UKM) yang mengandalkan digitalisasi masih mampu bertahan dan dapat mengikuti perkembangan dunia digital. Namun, bagi sektor yang tidak dapat mengikuti perubahan ini mereka akan tumbang dan hilang.

Dengan kondisi tersebut Dosen Pendidikan Ekonomi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Kresna Bayu Sangka dalam webinar Ecofair mengatakan terdapat dua macam model bisnis yang mampu berkembang yaitu temporary model dan permanent model.

“Ada dua model bisnis yang sekarang ini bisa menjadi model yaitu temporary dan permanent,” katanya dalam webinar Ecofair dengan tema “How to Build a Business Using Digital Technology to be Productive Gen Z” pada Sabtu (23/10/2021).

Temporary Model (adaptif model) yaitu mengadaptasi situasi dan kondisi saat ini untuk dapat dijadikan sebagai bisnis yang bersifat sementara, misalnya seperti adanya rapid test online dan jasa yang berbasis barang. Sedangkan Permanent Model (new normal model) yaitu bisnis yang muncul disaat pandemi tapi berpotensi menjadi bisnis permanen, misalnya menawarkan jasa pembelajaran online.

“Permanen, semi permanen, temporary dan macam-macam itulah yang diciptakan sebagai awal startup, you will be arounds your own business, your stop business end will change, akan berubah mengikuti perkembangan zaman,” ungkapnya.

Kemudian dalam membuat startup tidak harus menggunakan teknologi yang kompleks, dari golongan engineering, maupun yang berskala besar. Namun startup ini dapat dijadikan sifat pada diri untuk membuat sebuah perubahan walaupun dari hal yang sederhana dan simple.

Menurut Bayu, Startup dan SME itu berbeda, pada startup lebih mengutamakan jasa pada bidang teknologi yang didalamnya harus ada kreatifitas sesuai perubahan zaman, sedangkan pada SME lebih mengutamakan pada bentuk produk.

Adapun platforms yang dapat digunakan untuk mempertahankan bisnis di antaranya adalah E-commerce, layanan streaming, fintech, edutech, healthy food, and service on demand. Bayu juga menjelaskan bahwa alasan terbesar suatu startup gagal yaitu no market need.

“Alasan terbesar suatu Startup gagal adalah no market need, artinya bisnisnya itu tidak like, sudah banyak pemainnya, misalnya di Solo kalian membuat bisnis kopi dan cafe itu sudah terlalu banyak, kalau kalian mau bikin cafe harus yang berbeda,” pungkasnya.

Selanjutnya menurut Bayu terdapat 3 strategi startup, yakni 1) Problem/Solution fit (pengembangan pelanggan) dengan menemukan masalah yang layak dipecahkan dengan memperhatikan apa yang dibutuhkan konsumen. 2) Product / Market fit (Validasi pelanggan) dengan memvalidasi produk dan bisnis. 3) Scale (Membuat pelanggan) dengan focus pada pertumbuhan produk hanya setelah memvalidasi produk tersebut.

Reporter: Muhammad Muzaqqi
Editor: Aulia Anjani

https://fkip.uns.ac.id/
https://www.instagram.com/fkipuns.official/

#fkipuns
#fkipbagus
#uns
#universitassebelasmaret
#unsbisa